Manaqib Habib Umar Bin Muhammad Bin Hud Al Attas Cililitan Jakarta

Suara Bamega

Kotabaru (Suara Bamega) Manaqib Alhabib Umar Bin Muhammad Bin Hud Al Atthos adalah seorang ulama dan konon beliau juga seorang Wali Quthub usianya lebih dari 100 tahun dilahirkan di penghujung abad ke 19 di Hadramaut, Yaman Selatan. Di sana Beliau Tinggal Bersama Ibunya, Sedangkan Ayahnya Berada Di Indonesia. Dengan Sabar Beliau Mengurus Ibundanya yang Lumpuh dan Sudah Terbaring DI Kasur Selama Bertahun2. Setelah Ibundanya Meninggal Dunia Tepatnya Ketika Beliau Berumur 16 Tahun Beliau di suruh datang ke Indonesia oleh Ayahandanya.

Di sini beliau berguru ke Habib Empang Bogor dengan mengendarai Sepeda Ontel pulang pergi Setiap hari (Bayangkan.. ...)Akhirnya Beliau berdakwah sambil berjualan kain di Pasar Tanah Abang. Kemudian membuka pengajian dan Majelis Maulid di Cicurug, Sukabumi, Jawa Barat. Sekitar tahun 1950-an, beliau ke Mekkah dan bermukim selama beberapa tahun dan selama di Mekkah beliu menggunakan kesempatan tersebut untuk belajar kepada ulama-ulama setempat. Tapi, sayangnya, saat hendak kembali ke Indonesia, ia tertahan di Singapura.Pasalnya, pada awal 1960-an terjadi konfrontasi antara RI dan Malaysia, sementara Singapura masih merupakan bagian negara itu. Habib Umar baru kembali ke Tanah Air setelah usai konfrontasi, pada awal masa Orde Baru. Tapi, rupanya banyak hikmah yang diperoleh di balik kejadian tersebut

 Karena, selama lebih dari lima tahun di Malaysia dan Singapura, ternyata beliau sangat dihormati oleh umat Islam setempat, termasuk Brunei Darussalam.Karenanya tidak heran kalau orang menyebut Maulid Nabi yang diselenggarakan Habib Umar di Cipayung sebagai maulid Internasional. Maulid ini dihadiri sekitar 100.000 jamaah, termasuk ratusan jamaah dari mancanegara. Untuk perjamuan makanan untuk para jamaah yang menghadiri maulid ini diperlukan ribuan ekor kambing dan berton-ton beras. Kalau ditanya orang dari mana dananya, maka Habib Umar selalu bilang dari Allah.

Sesuatu yang mungkin lain dibandingkan dengan acara-acara maulud di Majelis lain adalah, tidak ada ceramah-ceramah setelah baca maulud. Acaranya langsung saja yakni baca maulud, zikir dan ditutup dengan do’a. Tidak adanya ceramah-ceramah yang sudah tradisi sejak lama itu, karena Habib Umar khawatir akan menimbulkan saling serang dan fitnah.Kegiatan rutin Habib Umar yang lain yang memasyarakat adalah Shalat Subuh berjamaah di kediamannya di Condet.

Setiap hari terdapat sekitar 300 jamaah subuh yang datang. Khusus pada hari Jumat, jamaahnya meningkat menjadi sekitar 1.000 orang. Setiap Sabtu mereka para jama’ah diberikan pelajaran Fiqih sedangkan di Cipayung bogor tiap kamis malam diadakan pembacaan Maulid Diba”dan yang menarik adalah setelah diadakan kegiatan tersebut para jama’ah dijamu oleh Habib Umar Bin hud seperti nasi uduk lengkap dengan lauk-pauknya. Habib Umar meninggal dunia pada bulan Agustus 1999 di rumahnya dan dimakamkan di Wakaf al-Hawi dekat dengan pusat perbelanjaan PGC Cililtan sesuai dengan wasiat beliau.Banyak Yang Mengatakan Beliau mendapat Ke Waliannya Karena Baktinya Pada Orang Tua Banyak Kejadian Aneh Ketika Beliau Meninggal Dunia Jalan Condet Tutup Karena banyaknya Para Jamaah.

Dari Pasar Rebo Sampai Kompor Cawang Nuki Jalan sepanjang Itu Dipenuhi lautan Jamaah Yang Berwarna Putih dan Mendengar dari Mulut Seorang Ibu - ibu  Yang Sudah Nenek...  Dia Berkata " MasyaALLAH Sudah 5 Kali Saya Pergi Haji Tapi Belum Pernah Saya Melihat Orang Sebanyak Ini" Padahal Secara Logika Ga Mungkin Jamaah Yang Hadir Lebih Banyak Daripada Jamaah Haji Di Tanah Suci Karena Disana Berjuta2 Orang Yang Datang Untuk Melaksanakan Ibadah Haji. (Ternyata Malaikat Turun Ketika Pemakaman Beliau).

Pernah waktu semasa hidupnya waktu SDSB (Sumbangan Dana Sosial Berhadiah) sedang booming nya karena SUDOMO (klo Sekarang Tenarnya TOGEL), ada seseorang minta Nomer ma Beliau, dan Beliau Memerikan nomor tersebut dengan syarat apabila Nanti Dapat Uangnya di bawa kesini tepatnya  Cipayung tempat Pesantren Beliau Puncak.setelah beberapa hari akhirnya orang itu datang ke cipayung Puncak dengan membawa uang itu sebanyak 2 karung karena memang cukup besar hadia SDSB itu, yaitu 1 Milyar. Lalu Beliau Mnyuruh Menaruh uang itu di dalam Bak Plastik lalu ditutupi kasin. setelah di buka ternyata Uang itu berubah menjadi Darah....Lalu Beliau Berkata " Inilah bentuk asli Uang Itu, Jika kau gunakan Uang Itu..sama saja kau menghisap Darah saudaramu sendiri" lalu Orang Itu Bertaubat, "tutupnya.(Hasan)