Telegram Jadi Sarang Informasi Radikal

Oleh:   Bpk Hasan Bpk Hasan   |   7/17/2017 06:13:00 AM
Suara Bamega – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) resmi untuk memblokir akses ke Telegram desktop atau versi web. Keputusan itu didasari oleh banyaknya konten negatif yang bermuatan isu-isu radikalisme dan terorisme di platform tersebut.

Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara, mengklaim bahwa aplikasi asal Rusia tersebut memuat belasan ribu halaman terorisme dan radikalisme yang saat ini sedang marak untuk dicegah oleh pemerintah Indonesia, terkait beberapa kejadian terorisme belakangan ini.

Pemblokiran ini tentu mendapat reaksi beragam dari publik. Beberapa orang berpendapat bahwa keputusan ini tepat karena isu radikalisme dan terorisme saat ini sangat sulit dibendung. Tentunya dengan adanya pemblokiran akan menjadi langkah pencegahan yang tepat sebelum isu ini berkembang.

Namun, tidak sedikit juga yang berpendapat bahwa pemerintah sudah berlebihan dan telah merenggut hak kebebasan warga negara untuk mengakses media sosial.

Tidak lama setelah Kemkominfo meminta pemblokiran akses Telegram, pemerintah juga sempat membuka polling di Twitter pada hari Jumat (14/7/2017) melalui akun @Menkominfo, mengenai hal tersebut.

Menurut pantauan sampai dengan Sabtu (14/7/2017) lalu, 80% warganet menganggap bahwa langkah pemblokiran terhadap situs Telegram tidak perlu dilakukan. Sementara hanya 9% yang menjawab perlu dan sisanya memilih tidak tahu.

Lantas apakah klaim Menkominfo tentang Telegram menjadi ‘sarang’ informasi radikal tersebut adalah benar? Tidak dapat dipungkiri bahwa platform perpesanan ini telah menjadi favorit bagi sejumlah kelompok radikal.

Salah satu pengguna setianya adalah ISIS, kelompok radikal memang diketahui sangat sering menggunakan Telegram sebagai sumber informasi dan sarana propoganda mereka atas berbagai serangan yang mereka klaim. Di antaranya adalah serangan yang terjadi di Manchester, Inggris, beberapa bulan lalu.

Kebijakan Telegram yang sedikit melunak terhadap akun terkait dengan terorisme menjadi salah satu alasan mengapa tempat ini menjadi favorit kelompok radikal. Berbeda dengan media sosial lainnya seperti Facebook dan Twitter yang rajin melakukan pembersihan terhadap akun yang disinyalir berafiliasi dengan kelompok radikal.

“Kami melihat tren pertumbuhan akun yang berbeda pada Telegram. Akhir-akhir ini jelas adanya pertumbuhan pengguna oleh hampir seluruh kelompok diseluruh dunia,” dikutip dari The Huffington Post, " (Atmen)

Comment