Selasa, 15 Agustus 2017

Apa Itu Aritmia? Kenali tentang Penyakit Penyebab Kematian Mendadak Ini

Suara Bamega - Tentu kamu pernah mendengar seseorang meninggal secara tiba-tiba, padahal baru saja bertemu dengan keadaan sehat. Pasti bikin kaget, bagaimana ini bisa terjadi? Bisa saja orang tersebut sudah memiliki penyakit aritmia yang menyebabkan ia mati mendadak, ladies.

Lalu apa itu penyakit aritmia? Yuk kita telusuri lebih dalam agar kita bisa memberikan informasi ini kepada orang-orang terdekat dan pada diri kita sendiri agar lebih berhati-hati.

Prof. DR. dr. Yoga menjelaskan, jantung bekerja terus menerus karena otomatisitas sistem listrik. Sistem listrik jantung terdiri dari generator listrik alamiah yaitu nodus sinoatrial (SA) dan jaringan konduksi listrik dari atrium ke ventrikel. Gangguan pada pembentukan dan atau penjalaran impuls listrik menimbulkan penyakit aritmia.

Berdebar adalah gejala tersering aritmia, tetapi spektrum gejala aritmia cukup luas, mulai dari berdebar, keleyengan, pingsan, stroke bahkan kematian mendadak. Akan tetapi aritmia tidak sepopuler Penyakit Jantung Koroner (PJK) atau sindrom gagal jantung karena pemahaman masyarakat yang masih rendah. Dokter ahli aritmia pun masih sedikit, dan fasilitas kesehatan yang menyediakan pelayanan canggih aritmia masih terbatas.

"Padahal berdebar saja, sebagai salah satu gejala aritmia, merupakan alasan kedua tersering pasien berobat ke dokter spesialis jantung. Setidaknya 41% pasien yang mengeluh berdebar terbukti memiliki aritmia," ujarnya saat ditemui di Jakarta.

Aritmia adalah irama yang bukan berasal dari nodus SA atau irama yang tidak teratur sekalipun berasal dari nodus SA atau frekuensi kurang dari 60 kali/menit (sinus bradikardi) atau lebih dari 100 kali/menit (sinus takikardi), serta terdapat hambatan impuls supra/intraventrikular.

Untuk mengetahui mekanisme aritmia, dibutuhkan pengetahuan mengenai mekanisme pembentukan dan konduksi listrik miokard dalam keadaan normal.

Pada umumnya, aritmia harus diterapi untuk mencegah kondisi yang lebih buruk. Untuk mendiagnosa aritmia dapat dilakukan dengan sinyal listrik jantung yang biasa disebut Electrocardiogram (ECG). Secara garis besar, aritmia terdiri dari 2 kelompok besar, yaitu bradiaritmia yang merupakan laju jantung yang terlalu lambat ( kurang dari 60 kali per menit [kpm]) dan takiaritmia yang merupakan laju jantung yang terlalu cepat (lebih dari 100 kpm).

Berkenaan dengan gejala yang dikeluhkan oleh pasien, berdebar tidak hanya terbatas pada denyut jantung yang cepat. Pasien mengeluh berdebar ketika denyut jantungnya cepat maupun lambat, tidak teratur, terasa lebih kuat, ada jeda bahkan saat terasa sakit dada. Oleh karena itu, di dalam kedokteran istilah berdebar didefinisikan sebagai kesadaran akan denyut jantung yang digambarkan sebagai sensasi nadi yang tidak nyaman atau gerakan di sekitar dada.

"Kesadaran akan denyut jantung secara implisit adalah sensasi tidak menyenangkan yang dapat berhubungan dengan perasaan tidak nyaman, peringatan, dan rasa sakit yang tidak biasa. Kesadaran ini menyebabkan seseorang berfokus kepada denyut jantungnya, sifat denyut jantung dalam hal kekuatan dan lajunya," tambahnya.

Oleh karena itu, istilah berdebar digunakan untuk menggambarkan persepsi subjektif pasien tentang aktivitas jantung yang abnormal yang mungkin berhubungan dengan gejala suatu kelainan irama jantung. Akan tetapi, berdebar sesungguhnya dapat merupakan manifestasi dari berbagai sebab dan penyakit dasar sehingga berdebar tidak secara tegas menunjukkan penyakit tertentu.

Dalam keadaan istirahat, aktivitas jantung umumnya tidak terasa. Tetapi setelah melakukan olahraga yang cukup berat atau setelah mengalami stress emosional, denyut jantung dapat dirasakan untuk suatu periode yang singkat dan hal ini adalah suatu berdebar yang fisiologis. Berdebar yang terjadi di luar dari keadaan fisiologis adalah berdebar yang abnormal.

Aritmia juga dapat ditimbulkan oleh beberapa sebab, yaitu persarafan autonom dan obat-obatan yang mempengaruhinya, lingkungan sekitarnya seperti Iskemia, pH, keadaan elektrolit yang tidak seimbang, obat-obatan, kelainan struktural jantung seperti fibrosis, sikatriks, inflamasi, jaringan abnormal, kalsifikasi, rangsangan dari luar, seperti pacemaker.

Salah satu kasus aritmia yang paling sering terjadi di klinik adalah Fibrilasi Atrium (FA). Tidak jarang stroke merupakan manifestasi klinis pertama dari FA. Dalam hal ini, dokter ahli saraf menjadi titik masuk pertama menuju diagnosis FA. FA merupakan suatu penyakit terkait umur (aging disease). Prevalensi FA mencapai 1-2% dan akan terus meningkat dalam 50 tahun mendatang.

Studi epidemiologi jangka panjang Framingham Heart Study dengan melibatkan 5209 subjek penelitian sehat mendapatkan bahwa dalam periode 20 tahun, angka kejadian FA adalah 2,1% pada laki-laki dan 1,7% pada perempuan.

Studi observasional (MONICA, multinational MONItoring of trend and determinant in Cardiovascular disease) menunjukkan, pada populasi urban di Jakarta menemukan angka kejadian FA sebesar 0,2% dengan rasio laki-laki dan perempuan 3:2.14 Selain itu, karena akan terjadi peningkatan signifikan persentase populasi usia lanjut di Indonesia yaitu 7,74% pada tahun 2000 menjadi 28,68% tahun 2050, maka angka kejadian FA juga akan meningkat secara signifikan.

Dalam skala yang lebih kecil, ini juga tercermin pada data di Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita yang menunjukkan bahwa persentase kejadian FA pada pasien rawat selalu meningkat setiap tahunnya, yaitu 7,1% pada tahun 2010, meningkat menjadi 9,0% (2011), 9,3% (2012) dan 9,8% (2013).

Disclaimer: Gambar, Artikel ataupun Video yang ada di web ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut.
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda :
Iklan

Top