Benarkah Piala Super Eropa Tak Penting untuk MU

Suara Bamega
SuaraBamega.com - Manchester United nampaknya memang tidak ditakdirkan berjodoh dengan trofi Piala Super Eropa. The Red Devils pun kembali tidak berhasil mendapatkan trofi setelah menunggu lama sejak 1991, usai ditaklukkan Real Madrid di laga Piala Super Eropa 2017.

Pada pertandingan yang dihelat di Arena Philip II, Masedonia, pada Rabu (9/8/2017) dinihari WIB, MU kalah tipis 1-2 dari El Real. Dua gol juara Liga Champions itu lahir dari kaki Casemiro dan Isco, yang cuma bisa sekali dibalas oleh Romelu Lukaku.

Gol Lukaku sebenarnya sempat membuat permainan kembali hidup. Namun, upaya MU untuk mengejar defisit gol di sisa waktu tidak berbuah hasil. Mereka pun gagal memperoleh trofi perdana di musim ini. Tak heran kalau Jose Mourinho merasa kecewa atas kekalahan itu, mengingat gol pertama Madrid yang dibuat oleh Casemiro berbau offside.

Walau begitu, Mourinho tidak membenarkan bila kekalahan timnya itu dikaitkan dengan nasib sial yang acapkali didapati MU di ajang Piala Super Eropa. Semenjak ajang tahunan ini digelar pada 1972 silam, United baru empat kali tampil serta cuma berhasil sekali mereka bisa memenangkannya, yakni pada tahun 1991.

Saat itu MU berstatus sebagai juara Piala Winners dan berhasil menaklukkan Red Star Belgrade di Old Trafford. Sesudah itu, MU tiga kali tampil di ajang itu tatermasuk pada tahun ini. Namun, semua gagal berbuntut kemenangan.

Setelah meraih gelar juara Liga Champions 1999 silam, MU harus menyerah 1-2 dari Lazio di Piala Super Eropa. Di tahun 2008, ‘kutukan’ itu masih ada. Saat itu Setan Merah kalah dari Zenit St-Petersburg yang berstatus juara Piala UEFA (Liga Europa).

“Saya harus berkata jujur, bahwa saya tidak menganggap Piala Super Eropa sebagai suatu hal yang penting bagi tim,” tutur manajer legendaris MU, Sir Alex Ferguson sebelum laga kontra Real Madrid.

“Umumnya ajang ini digelar di Monako pada hari Jumat, serta kami mesti memulai pertandingan pertama di liga pada hari Senin. Kami cuma mempunyai persiapan selama dua hari,” sambungnya.

“Jangan heran kalau di pertandingan kontra Lazio dan Zenit, saya mengambil keputusan untuk memainkan banyak pemain belia. Saya meminta maaf kepada para fans atas keputusan itu, serta saya harus mengatakan ini karena Lazio berasumsi kalau pertandingan itu bak sebuah final Piala Dunia.”

“Cobalah tanyakan kepada para pendukung tim ini, apakah mereka lebih berkeinginan menjadi juara di Piala Super Eropa atau di liga. Saya sudah tahu apa jawaban mereka,” tutupnya.(Red)