Pak Niko Panji Menantang Novel untuk Muncul Beri Keterangan di Pansus Angket KPK

Suara Bamega
SuaraBamega.com - Niko Panji Tirtayasa menyebut nama Novel Baswedan saat mengunjungi rumah yang pernah menjadi safe house KPK di Depok. Niko ‘menantang’ Novel agar berani muncul dan memberikan keterangan di Pansus Angket KPK.

Saat mengecek safe house bersama Pansus Angket KPK di Jl TPA, Depok, Niko menegaskan dirinya tak tahu-menahu istilah ‘rumah aman’ tersebut. Dia juga mengklaim tidak mengetahui perkara yang ditangani KPK hingga akhirnya Niko menjadi saksi.

“Saya bukan sebatas saksi, (hanya) masyarakat biasa dan nggak tahu duduk permasalahan yang terjadi itu kita cuma diarahkan oleh oknum KPK, kita sebut saja Novel. Tolonglah muncul jangan bilang dia sakit, muncullah kita duduk sama-sama di Pansus. Gara-gara beliau, saya diperiksa seperti saya yang menyiram (kasus teror Novel, red),” kata Niko, Jumat (11/8/2017).

Niko menuding Novel mengarahkan sejumlah saksi di rumah yang pernah ditempatinya kepada Niko sekitar 2014. Istilah ‘rumah sekap’, menurut Niko, didasari pengawalan ketat terhadap dirinya.

“Kenapa saya bilang rumah sekap? Walaupun saya di dalam, saya ada pengawalan. Tapi pengawal ini tidak tahu apa saya siapa, saya saksi apa, dia tidak tahu. (Dia) hanya mengantar saya ke KPK dan pulang lagi ke sini dan saya dibatasi untuk bicara ke pihak pengawalan dari kepolisian,” sambung Niko.

Pengecekan safe house oleh Pansus Angket KPK hanya berlangsung 15 menit. Hadir pimpinan Pansus Agun Gunandjar Sudarsa, Taufiqulhadi, dan Masinton Pasaribu. Sedangkan anggota Pansus Angket yang ikut mengecek adalah Mukhamad Misbakhun, Eddy Kusuma Wijaya, dan Arteria Dahlan.

KPK sendiri meluruskan keterangan Niko bahwa itu sebenarnya bukan rumah sekap, melainkan rumah aman atau safe house. Penggunaan safe house itu untuk melindungi saksi dari intervensi berbagai pihak.

Perlindungan saksi itu tertera dalam Pasal 15 huruf a Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK. Perihal penggunaan safe housepun diatur pula dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2014 tentang Perlindungan Saksi dan Korban, tepatnya dalam Pasal 12 A.(Red)